Maria Zaitun: Pelacur Kekasih Tuhan??

Awal mendengarkan puisi nyanyian angsa yang dibacakan oleh Rendra, Saya merasa biasa saja dan belum menemukan poin-poin istimewa dari karya sastra monumental tersebut. “Seperti membaca teks narasi, seperti sedang bercerita, dan bukan membaca puisi”, gumamku dalam diam di kamar kosan. Masih menerka-nerka, “mana sisi menariknya”?, tanyaku dalam hati. Selintas Aku teringat dosen sosiologi sastra, Bu Rini namanya, mengatakan bahwa puisi nyanyian angsa karya Rendra luar biasa bagusnya. Beliau menegaskan bahwasanya ia sendiri pun tak pernah jemu mendengarnya. Akhirnya Aku pun memutuskan untuk mendengarkan lebih seksama sembari menyimak teks puisinya. Hingga tiga kali Aku pun mendengarkan puisi tersebut. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, Aku pun lebih memahami keindahan dan kekritisan puisi nyanyian angsa tersebut.

Puisi berjudul “Nyanyian Angsa” karya WS Rendra ternyata sungguh luar biasa! Mengangkat isu sosial yaitu mengenai pelacur, tepatnya kehidupan seorang pelacur bernama Maria Zaitun yang terpinggirkan karena sudah tua dan penyakit sipilis yang dideritanya. Namun, meskipun dibuang dan dicaci di sana-sini oleh banyak orang, bahkan malaikat penjaga surga pun enggan melihat wajahnya, tetapi ia malah menjadi kekasih Tuhan. Ia mendapatkan kenikmatan surga firdaus yang tak pernah dibayangkannya selama hidup di dunia. Padahal di dunia ia hina karena berprofesi sebagai pelacur. Zina itu dosa besar, apalagi zina yang diperjualbelikan layaknnya jasa. Dalam agama apapun melacurkan diri adalah dosa besar dan dilarang agama. Itulah fakta sosialnya. Tak terkecuali dalam Katholik, agama yang dianut Rendra sewaktu ia menulis puisi ini.

Nah untuk lebih memahami puisi nyanyian angsa karya Rendra, maka akan dijelaskan lebih terperinci apa yang telah Saya pahami. Nyanyian angsa merupakan salah satu puisi Rendra yang paling monumental karena bercerita mengenai kehidupan seorang pelacur bernama Maria Zaitun, dimana pelacur itu digambarkan sangat menderita. Seperti dicuplik dari puisi nyanyian angsa:

…Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua.

…Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.

…Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.

…Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.

…Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina.

Maria Zaitun diusir oleh majikan rumah pelacuran atau dalam istilah sekarang mami/mucikari. Dengan dalih sudah lama Si Maria Zaitun sakit, hanya bisa berbaring di tempat tidur, tak bisa menghasilkan uang, dan malah menambah beban si mami karena harus membiayai kehidupannya. Akhirnya dengan rasa sakit yang menjadi-jadi, Maria Zaitun keluar rumah pelacuran tanpa membawa koper. Harta miliknya pun tak ada sedikit pun. Teman-temannya pun membuang muka mengiringi kepergian Maria. Penyakit sipilis atau raja singa yang dideritanya, disertai demam, dan penyakit jantungnya kambuh pula saat itu benar-benar menambah penderitaan perempuan itu. Seperti digambarkan dalam puisi tersebut:

…Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula….

Dengan keadaan seperti apa yang digambarkan di atas, Maria Zaitun pergi ke dokter. Di rumah sakit banyak pasien mengantri menunggu giliran periksa. Ia duduk diantara para pasien lain. Namun lagi-lagi orang-orang menghina, melecehkan, dan melukai perasaannya dengan perilaku orang-orang di sekitarnya yang menyingkir dan menghindarinya serta menutup hidung mereka.  Sungguh malang nasib Maria Zaitun!

Kejadian dalam ruang periksa pasien sungguh sangat miris. Maria Zaitun lagi-lagi mendapat kemalangan yag bertubi-tubi. Ia tak dihargai sebagai seorang pasien oleh sang dokter yang memeriksanya. Hanya karena ia tak punya uang, Maria Zaitun tak mendapat pengobatan yang layak untuk penyakit yang dideritanya itu. Hal tersebut terlihat dalam percakapan antara dokter dan juru rawat:

…Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”….

Kutipan puisi di atas merupakan kritik terhadap lembaga kesehatan, seperti rumah sakit, klinik kesehatan, dan lain-lain. Orang yang tak punya uang untuk berobat tak berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Berobat itu mahal! Butuh uang! Lalu kalau begitu bagaimana nasib orang miskin?, seperti Maria Zaitun, pelacur yang tak punya apa-apa lagi selain penyakit sipilis yang dideritanya sekarang. Nah ini juga yang ingin disampaikan Rendra melalui puisi nyanyian angsanya.

Selain bermaksud menyampaikan kritiknya mengenai lembaga kesehatan, Rendra juga mengkritik lembaga agama, dalam hal ini gereja katholik. Kutipan keresahan Rendra yang termaktub dalam Nyanyian Angsa mengenai lembaga agama:

Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara”…

Gereja merupakan tempat beribadah umat kristiani dan tentu saja itu rumah Tuhan. Namun, yang menjadi pertanyaan disini adalah mengapa pintu gereja dikunci? Karena takut pencuri kah? Sungguh irasional kalau dilogika dengan akal sehat. Bagaimana umatnya beribadah ke gereja kalau rumah ibadahnya saja dibatasi. Seseorang dalam hal ini tidak memiliki kebebasan individu untuk melakukan aktivitasnya sebagai mahluk rohani/spiritual. Namanya saja beribadah, bukannya bisa kapan saja? Tidak harus ada jadwal untuk berkunjung ke gereja. Harusnya kita bebas berkunjung ke gereja kapan saja, namanya juga rumah Tuhan. Masa dibatas-batasi. Tak adil rasanya bagi umat.

Rendra juga merasa resah mengenai cara beribadah umat Katholik yang memerlukan perantara, yaitu pastor. Kenapa harus ada jam bicara dan kenapa pula harus ada jam berdoa? Sepertinya Pastor sudah memiliki jadwal yang terstruktur hingga ia pun punya hak untuk menolak orang yang datang untuk mengaku dosa jika bukan jadwal jam bicara. Kenapa ada yang namanya pengakuan dosa kepada Pastor? Mengapa tidak langsung saja mengaku dosa ke Tuhan? Untuk berhubungan dengan Tuhan saja memerlukan Pastor sebagai perantaranya. Hal inilah yang membuat Rendra agak meragukan agama Katholik yang telah dianutnya sejak ia dilahirkan. Sehingga akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk Islam ketika menikah dengan Sitoresmi, istri keduanya. Dengan alasan keresahan-keresahan tersebut dan rasa cintanya pada Sitoresmi, Rendra pun pindah agama.

Percakapan Maria Zaitun dan Pastor menggambarkan bahwa Pastor tidak menyambut baik kedatangan Maria Zaitun. Pastor datang satu jam setelah Maria menunggunya. Dan dengan enaknya bicara bahwa saat itu bukan jam bicara tetapi waktunya Pator berdoa. Di dalam percakapan Pastor pun tidak bisa membuat hati Maria Zaitun menjadi tenang. Malah memojok-mojokan Maria. Seorang pastor, ahli agama seperti ustadz dalam Islam seharusnya bisa mengademkan suasana hati Maria Zaitun, bukan malah mengadili dia dan menganggap rendah seorang pelacur. Seperti yang saya kutip di bawah ini:

…Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja”….

Kisah Maria Zaitun berakhir dengan kebahagiaan. Meskipun di dunia pelacur yang bernama Maria Zaitun ini penuh dengan penderitaan, tetapi di surga ia malah menjadi kekasih Tuhan. Di dunia ia, direndahkan, dilecehkan, diasingkan karena ia pelacur dan ia juga menderita sakit jantung dan penyakit sipilis yang membuat seluruh tubuhnya penuh dengan borok. Orang-orang di dunia dan bahkan malaikat penjaga surga firdaus pun enggan menoleh padanya. Malah selalu memasang wajah beku dan menakutkan. Namun Tuhan masih menyayanginya dan memasukannya ke surga Firdaus. Ia mendapat kenikmatan yang belum dirinya dapatkan selama di dunia. Suatu kenikmatan yang baru ia rasakan ketika Maria Zaitun masuk ke surga firdaus. Sepi, duka, dan takut yang ia rasakan di dunia telah sirna. Dan semuanya itu terbayar dengan kenikmatan yang ia dapatkan di surga.

Rendra dengan apiknya menganalogikan kenikmatan di surga dengan hubungan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Seperti dicuplik dari puisi nyanyia angsa:

…Lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar…

Untuk orang awam yang belum tahu makna puisi tersebut akan berpikiran negatif mengenai Rendra. Ooh ternyata Rendra mesum. Berani-beraninya menganalogikan penyambutan Maria oleh Tuhan dengan kenikmatan persetubuhan antara Tuhan dan Maria, pelacur yang selalu menderita di dunia.

Beberapa frase juga diulang-ulang/ada semacam repetisi. Dan tersebut menambah keindahan puisi nyanyian angsa. Misalnya frase: “ malaikat penjaga firdaus” dengan segala karakter sifat yang disebutkan. Repetisi ini memiliki makna yang berfungsi untuk mempertegas sesuatu hal.

Menurut pendapat Saya secara keseluruhan puisi “Nyanyian Angsa” bagus. Dari judul puisi itu sendiri pun memiliki makna simbolik tersendiri. Orang awam tak akan tahu bahwa judul puisi Rendra ini melambangkan kisah Maria Zaitun: Sang Pelacur Kekasih Tuhan yang berlari kesana-kemari sebelum ajal kematian menjemputnya. Yah, memang tepat sekali analogi Rendra. Pasalnya, seeokor angsa ketika telah disembelih dan merasakan kesakitannya serta darah bercucuran dari lehernya ia masih bisa berjalan kesana-kemari menahan kesakitannya itu. Begitu pula Maria Zaitun yang dianalogikan Rendra layaknya angsa. Sebelum Maria Zaitun dijemput ajalnya, dengan penyakit yang dideritanya itu ia begitu sangat menderita sakit fisik dan batin yang sangat mendalam. Di tengah kesakitannya itu, ia masih bisa berjalan kesana-kemari, menahan kesakitannya dan berusaha untuk tetap hidup. Sungguh luar biasa imanjinasi Rendra tentang sosok seorang pelacur kekasih Tuhan bernama Maria Zaitun. Terkagum-kagum Saya dibuatnya, setelah mendengar dan menganalisis puisi pamungkas Rendra ini. Sungguh! Tak percaya? Buktikan saja!

Advertisements