Ketika Waktu Adalah Uang (Kapitalisme Waktu dalam Film In Time)

 

Aku tidak punya waktu

Aku tidak punya waktu mengkhawatirkan kenapa itu terjadi

Itu memang sudah begitu

Kami direkayasa secara genetik agar penuaan berhenti pada usia 25 tahun

Kecuali kita punya waktu tambahan lagi

Saat ini waktu adalah uang

Kami dapatkan lalu habiskan

Orang kaya bisa hidup selamaya

Sementara yang lain…,

Aku hanya ingin bangun waktu lebih banyak di tangan daripada waktu sehari

Masalahnya, usia kami tinggal setahun lagi

 

(Prolog Film In Time)

 

Itulah prolog yang sangat apik dan tersirat esensi dari film In Time yang akan diulas dalam tulisan singkat ini. Film In Time ini berlatar waktu sekitar tahun 2161, dimana saat itu ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat serta super canggih. Sampai-sampai manusia saat itu telah mampu mengubah susunan genetika tubuh mereka sendiri dan membuatnya berhenti menua pada usia 25 tahun. Setelah berumur 25 tahun, manusia hanya diberi tambahan waktu 1 tahun untuk hidup.
Di lengan mereka terpasang jam yang menunjukkan sisa waktu hidup mereka. Maka dari itu mereka harus bekerja untuk memperpanjang waktu mereka di dunia. Jika tidak mereka akan kehabisan waktu dan mati seketika secara mendadak apabila 13 digit angka jam mereka telah menunjukan angka nol semua. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mengurangi jumlah penduduk yang berlebihan dan bertambah dari tahun ke tahun. Seperti diketahui oleh masyarakat umum, dengan meledaknya populasi manusia di bumi maka akan berdampak pada tingkat polusi akan meningkat, kemiskinan merajalela, kesempatan kerja terbatas, sehingga banyak yang menganggur. Bahkan ledakan penduduk yang sangat dahsyat bisa membahayakan kestabilan bumi. Untuk mengatasi masalah ledakan penduduk ini, maka dibuatlah suatu sistem baru dalam kehidupan manusia. Dalam film In Time ini, kita dikenalkan dengan sistem tersebut. Sistem baru ini dibuat untuk mengurangi kepadatan penduduk dunia dengan cara alami. Memang secara tersurat hal tersebut tidak disampaikan dalam film tersebut tetapi jika dirunut-runut certitanya mengindikasikan demikian. Sistem yang disebutkan tadi menjadikan usia atau umur manusia sebagai mata uang yang berlaku. Waktu adalah uang dalam film ini. Waktu dijaikan alat tukar untuk membeli sesuatu layaknya uang. Misal, secangkir kopi dihargai 3 menit, mobil mewah dihargai dengan 59 tahun umur manusia. Ternyata ungkapan Binjamin Franklin yang menyatakan bahwa waktu adalah uang, benar-benar direalisasikan dalam film In Time ini. Yah bukan mustahil hal tersebut bisa terjadi. Binjamin Franklin yang hidup sekitar tahun 1706-1790 adalah seorang tokoh Amerika Serikat yang cukup popular dan memiliki banyak keahlian dan pekerjaan. Ia seorang wartawan, penerbit, pengarang, filantrofis, abolisionis, pelayan masyarakat (pejabat), ilmuwan, diplomat, dan juga penemu. Bahkan Franklin adalah salah seorang pemimpin Revolusi Amerika, dan salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Tidak heran begitu banyaknya kesibukan Binjamin Franklin sehingga ia membuat sebuah ungkapan “waktu adalah uang”.

Film In Time ini merupakan sebuah film fiksi ilmiah yang diperankan oleh Amanda Seyfried, Justin Timberlake, Cillian Murphy, Olivia Wilde, Matt Bomer, Alex Pettyfer, Johnny Galecki dan Vincent Kartheiser. Film ini menceritakan tentang suatu kelompok masyarakat dimana waktu adalah berfungsi sebagai mata uang mereka. Orang yang memiiki banyak waktu adalah mereka yang beruang, dan sebaliknya orang yang sedikit waktu adalah miskin yang selalu berjuang mencari pinjaman waktu ke orang lain agar dapat bertahan hidup di dunia atau mereka akan mati mendadak karena kehabisan waktu dan tak mendapatkan pinjaman sedetikpun. Waktu tersebut layaknya jam yang berada di lengan kiri mereka tetapi waktu yang ada di tangannya itu berkurang setiap detiknya. Entah itu untuk membeli makanan atau untuk menikmati layanan jasa tertentu, untuk membeli tiket, dan lain sebagainnya. Intinya jam yang ada di lengan seseorang itu merupakan kekayaan mereka. Semakin banyak waktu yang dimiliki semakin kaya orang tersebut. Di dalam film tersebut digambarkan kesenjangan sosial antara yang miskin dan kaya. Kelompok masyarakat yang miskin tinggal di daerah Dayton, sementara yang kaya bermukin di daerah yang namanya New Grenwhich dimana di daerah itu berbagai kemewahan hidup dapat diperoleh. Di Dayton sendiri merupakan lingkungan miskin yang minim fasilitas-fasilitas kemewahan.

Justin Timberlake dalam film ini berperan sebagai Wil Salas, seorang pemuda pekerja yang berusia 28 tahun dan tinggal bersama ibunya, Rachel (Olivia Wilde), yang berusia 50 tahun. Suatu hari, Will menyelamatkan seorang milyuner dengan masa hidup yang tersisa lebih dari satu abad, Henry Hamilton (Matt Bomer), dari kejaran sekelompok orang yang berniat mencuri usia Henry. Sebagai rasa terima kasih dan karena rasa bosannya telah hidup lama, Henry memberikan seluruh sisa hidup yang ia miliki pada Will. Kematian Henry kemudian menjadi sensasi tersendiri bagi beberapa pihak keamanan yang mengira Will mencuri waktu tersebut, padahal waktu tersebut ia dapatkan tanpa ia meminta. Film ini mengajarkan kita berbagai metafora sosial mengenai jurang pemisah yang terbentuk antara kelompok kaya dan kelompok miskin, bagaimana orang yang berkuasa (baca: pemerintah) memperlakukan rakyatnya secara tidak adil, bagaimana kerasnya kehidupan bagi mereka yang hidup dengan keseharian yang pas-pasan hingga bagaimana banyak orang di dunia lupa akan arti kemanusiaan hanya karena materi. Kisah-kisah selanjutnya yaitu nantinya Wil Salas ini akan berperan seperti Robin Hood dibantu Sylvia Weis yang diperankan oleh Amanda Seyfried. Wil Salas akan memainkan peran sebagai seorang Robin Hood, sosok pencuri yang membantu orang-orang yang kesulitan, khususnya dalam hal finasialnya. Wil Salas mencuri karena tak ada pilihan lain. Kasihan melihat orang-orang miskin yang mati satu per satu di depan matanya, Wil pun memutuskan untuk mencuri waktu-waktu yang ditimbun di bank-bank oleh orang-orang kaya. Dalam operasi pencurian ini Wil dibantu oleh Sylvia yang merupakan anak dari milyarder dari New Grenwhich, juga menjadi kekasih Wil Salas nantinya.

Ada beberapa catatan kritis terhadap film In Time. Pertama, mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang terkadang menjadikan manusia tak bermoral dan tak berperikemanusiaan. Hak asasi manusia, khususnya hak untuk hidup seakan hilang perlahan-lahan ditelan zaman. Seperti dalam film tersebut, menjadikan waktu atau usia/umur manusia sendiri sebagai mata uang yang berlaku di masyarakat tersebut. Waktu tersebut dipertukarkan dengan barang, jasa, atau kesenangan hidup lainnya. Disini posisi waktu layaknya uang yang bisa dijadikan alat tukar untuk membeli suatu barang atau jasa. Sementara secara genetik manusia dibatasi penuaannya hanya sampai umur 25 tahun dan hanya diberi tambahan waktu 1 tahun untuk bertahan hidup. Untuk itu seseorang harus bekerja agar dapat hidup. Sungguh hal ini sangatlah tidak adil bagi orang miskin yang sisa waktunya tinggal sebentar, bagaimana jika orang miskin ini sakit? Dengan apa ia makan, dengan apa ia membayar biaya rumah sakit dan obat-obatannya? Tentu saja jika sistem mata uang seperti dalam film tersebut maka orang-orang kaya atau kaum kapitalislah yang akan abadi hidupnya serta sejahtera. Sementara bagaimana nasib kaum proletarnya? Itulah yang harus dipikirkan bersama. Kedua, dengan mengubah susunan genetika tubuh manusia dan membuat mereka berhenti menua pada usia 25 tahun adalah suatu perbuatan yang melanggar takdir Tuhan. Padahal menurut ajaran Islam, takdir umur manusia telah ditentukan oleh Tuhan sejak ia dalam kandungan dan hal tersebut dicatat dalam sebuah kitab yang bernama Lauh Mafhuzh. Juga dengan menjadikan waktu sebagai alat tukar seperti yang ada dalam film tersebut sungguh sangat menindas kaum miskin. Kelompok orang-orang miskin tertindas, bekerja mati-matian untuk bisa hidup dari hari ke hari. Sementara Kelompok orang-orang kaya bersenang-senang dengan gaya hidup hedonisnya, menghamburkan harta yang dimilikinya demi kesenangan diri pribadi. Ketiga, Kesenjangan sosial tampak jelas dalam film tersebut. Antara kota Dayton, yang merupakan asal kota dari Wil Salas, dan Kota New Grenwhich, yang merupakan asal kota Sylvia Weis. Dayton adalah simbol dari kemiskinan, sementara New Grenwhich merupakan simbol kaum kapitalis yang kaya. Dapat ditarik benang merah bahwa meskipun secanggih apapun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tak akan dapat menghilangkan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Kedua kelas tersebut sudah ada sejak dulu, sebelum Karl Marx, pengusung masyarakat tanpa kelas, lahir ke dunia. Sampai sekarang diantara kedua kelas tersebut masih saja ada gap yang membatasi antar keduanya. Bahkan di tahun-tahun mendatang pun diperkirakan kedua kelas sosial tersebut akan tetap eksis, seperti yang digambarkan dalam film In Time, dimana terdapat kesenjangan antara kelompok masyarakat yang tinggal di Dayton dan New Grenwhich.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s