Ulasan Film DEAD POETS SOCIETY

Gambar

Pukul 14.30 WIB kelas sosiologi sastra dimulai. Kebetulan dari awal Saya tak tahu jika kuliah hari itu, hanya menonton film. Jelas jam-jam tersebut waktu enak-enaknya untuk tidur siang. Maka tak heran beberapa mahasiswa terlihat mengantuk saat nonton film yang durasinya sekitar dua jam lebih itu. Beberapa mahasiswa yang terlambat, sedikit banyak mengalihkan perhatian, dari film ke teman-teman mahasiswa yang terlambat. Bahkan ada mahasiswa yang datang pukul 15.30 WIB. Sungguh lucu sekali suasana saat itu. Dan mahasiswa– mahasiswa yag tak disiplin itu pun masih diperkenankan untuk masuk kelas.

Dead Poets Society, itulah judul film itu. Sejenak Saya bayangkan berdasarkan judul tersebut. “Pasti isinya mengenai kematian puisi, masyarakat puisi yang telah mati, dan nanti pasti ada tokoh yang bisa menghidupkan kembali puisi”, tebakku dalam hati. Dan memang tebakan itu tak selamanya benar, hanya saja substansinya yang benar.

            Dead Poets Society merupakan sebuah film Amerika produksi 1989 yang menceritakan seorang guru bahasa inggris sekolah menengah atas khusus laki-laki sekitar tahun 1950-an, yang menginspirasi muridnya untuk selalu membuat perubahan dalam hidup mereka dan merangsang mereka tertarik puisi. Tokoh-tokoh dalam film ini yaitu, John Keating: Robin Williams sebagai guru bahasa inggris dan tujuh anak laki-laki: murid-murid sekolah Welton, Neil Perry (Robert Sean Leonard), Todd Anderson (Ethan Hawke), Knox Overstreet (Josh Charles), Charlie Dalton (Gale Hansen), Richard Cameron (Dylan Kussman), Steven Meeks (Allelon Ruggiero) serta Gerard Pitts (James Waterston).

Pada awalnya Saya bingung, mau kemana arah film ini. Gregetnya kemana, kok tak muncul-muncul ya inti persoalannya. Apa menariknya film ini? Apakah karena diselipi dengan puisi-puisi kah? Ah rasanya bosan dan ngantuk jadinya. Namun beberapa saat kemudian, Saya dapat esensinya. Ada seorang tokoh bernama Neil yang sekolah di Welton. Keluarganya berharap Neil menjadi dokter, sehingga ia disekolahkan di situ agar bisa menembus Harvard University. Itulah mimpi Ayahnya. Eksesnya, Neil tak diberi kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri, bahkan segala kegiatan yang disukai Neil dilarangnya, seperti, akting dan puisi, agar tidak menganggu kegiatan belajarnya di sekolah. Tapi di tengah perjalanan, Neil menyukai dunia akting dan puisi yang sangat ditentang keluarganya, terutama oleh Ayah Neil sendiri. Neil nekad, berani menentang ayahnya berkat dukungan dan dorongan dari gurunya, Mr.Keating dan teman-temannya di Dead Poets Society. Neil punya bakat akting yang luar biasa dan mendapat pujian akan itu. Namun orang tua terkadang tidak memberikan hak suara untuk anaknya, tidak memberi kesempatan pada anaknya untuk berbicara dan berargumentasi, bahkan memberikan kesempatan aktualisasi diri dan membebaskan apapun kemauan si anak. Baginya, yang terbaik untuk anaknya adalah seperti apa yang ia harapkan. Tak peduli apa minat si anak. Hingga konflik Neil ini berakhir tragis dengan ending bunuh diri yang dilakukan Neil, sebagai protes akan keterkekangan yang dialaminya. Dan lebih tragisnya lagi, yang disalahkan atas peristiwa bunuh diri ini adalah Mr. Keating. Ia dianggap telah memupuk paham kebebasan di sekolah Welton, dengan didirikannya kembali club Dead Poets Society, yang pernah didirikannya 15 tahun yang lalu ketika ia masih bersekolah di Welton.

            Mr. Keating memang yang mengajarkan murid-muridnya mengenai makna kebebasan.  Baginya, yang juga merupakan pendiri Komunitas Dead Poets Society, sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk mengembangkan diri karena hanya dalam mimpilah manusia dapat bebas. Menurut Mr. Keating yang mengusung tema kebebasan ini, pendidikan adalah belajar untuk berpikir sendiri. Tanpa campur tangan dan pengaruh dari orang lain yang cenderung mengarahkan. Hal tersebut ditentang oleh kepala sekolah Welton dengan alasan usia. “Kebebasan tidak bisa di usia mereka yang sekarang”, tegas Kepala Sekolah. Namun Saya seide dengan Mr. Keating, sekolah adalah suatu lembaga yang yang tidak selalu mengarahkan tapi juga terkadang ia harus juga memberi kebebasan pada anak didiknya untuk berpikir sendiri, agar tidak ada beban berat pada si anak untuk sesuai dengan aturan dan tradisi-tradisi sekolah yang telah terlembaga. Selain isu kebebasan ini, masih banyak pesan lain yang bisa dipetik anatara lain, loyalitas, solidaritas, kesetiaan, memerhatikan sesama, dan masih banyak pesan positif lain yang dapat diambil, tergantung dari sisi mana kita memandangnya.

Film ini merupakan proses penyadaran, dimana para murid dan juga penonton melihat bahwa otoritas lembaga dalam hal ini sekolah, dapat dan selalu berupaya menjadi pengarah, tapi hanya diri kita sendiri yang dapat menentukan arah hidup kita. Sekolah seketat dan sedisiplin apa pun aturannya tetap masih saja ada beberapa anak yang menyimpang dari aturan. Disini aturan hanyalah pengarah dan kitalah yang menentukan, apakah mau mengikuti aturan tersebut ataukah tidak.  Semua terserah dan tergantung pada kita!

            

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s