Phylosophy of love

Gambar

Cinta adalah suatu perasaan emosional yang membuat kita ingin tahu dan mengerti segala sesuatu tentang orang yang kita cintai. Walaupun dimarahi, dibenci, diabaikan olehnya kita tetap saja baik dan perhatian terhadapnya. Merasa bahagia mencintai meskipun cinta tak berbalas. Terus berharap dan berusaha supaya Si Dia membalas cinta kita. Tentunya dengan cara yang baik,  fair, dan tidak menyakiti. Itulah yang di namakan cinta. Bahkan lebih dalam lagi cinta bisa membiarkan orang yang di cintainya bahagia tanpa memilikinya. Hanya untuk orang yang levelnya tinggilah yang bisa melakukan itu.

 

Ada juga cinta akan fisik semata. Orang tipe ini akan cepat bosan dengan pasanganya jika telah menemukan seseorang yang lebih segalanya dari pasangannya. Mereka hanya ingin menikmati keindahan fisik pasangannya dan mengeksploitasinya. Tak segan-segan mereka meminta sex pada pasanganya meskipun belum menikah. Apabila pasangan tak memberinya mereka akan marah dan menjauh bahkan mencari penggantinya dalam waktu singkat.

 

Cinta bukan sekadar fisiknya saja yang ganteng, cantik, keren, macho, atau apapun itu. Cinta itu memberi dengan ikhlas kepada pasangan kita tanpa penilaian untung rugi seperti dalam ekonomi, menurunkan ego dan memaklumi pasangan tanpa terlalu banyak mengeluh dan menuntut, menerima pasangan kita apa adanya, dan mendorongnya untuk lebih baik .

 

Socrates bertanya kepada gurunya, Aristoteles tentang makna cinta. Beliau, aristoteles menjawab, “ Berjalanlah Kamu ke hutan dan ambilah ranting yang Kau anggap paling baik tetapi jangan sekali-kali mundur ke belakang”. Kemudian Socrates pulang dan tak membawa satu rantingpun. “Mengapa Kau tidak membawa pulang satu rantingpun?”, tanya gurunya. Saya sudah melihat satu ranting yang ku anggap paling baik tetapi tidak aku ambil karena Saya berpikir bahwa mungkin di depan sana Saya akan menemukan ranting yang lebih baik dari ranting tersebut.  “Itulah cinta”, kata Aristoteles. Jadi cinta tak akan pernah kau dapat jika dirimu mengharap sesuatu yang sempurna karena tak ada sesuatu apapun di dunia ini yang bisa sesempurna Tuhan. Sia-sia jika mencari pasangan yang super perfect. Pasti ada sesuatu kekurangan yang tidak Kita sukai.

 

Beda halnya dengan pernikahan. Socrates bertanya lagi kepada gurunya, “Guru, apa itu pernikahan?”. “Berjalanlah Kamu ke hutan dan ambil ranting yang Kau anggap paling baik dan sempurna tanpa menoleh ke belakang lagi”, jawab Aristoteles. Dia berjalan ke hutan dan mengambil sebuah ranting. “Kenapa Kau membawa pulang ranting yang bentuknya tidak baik dan kualitasnya sedang-sedang saja?”, tanya gurunya . Muridnya menjawab, “Begini guru, kemarin Saya pulang dan tidak membawa apa-apa dan Saya menyesal tidak mengambil ranting yang paling baik karena saya berharap ada yang lebih baik lagi di depan saya. Maka sekarang saya belajar dari kesalahan tersebut. Saya putuskan mengambil ranting ini meski tak sesempurna dengan apa yang saya ingin dapatkan. Saya takut pulang tak mendapatkan apa-apa seperti kemarin”.  Gurunya menjawab, “Itulah yang dinamakan pernikahan”. Sekarang Kamu tahu kan???

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s