Gerli: Sustain Movement atau Sekadar Orientasi Nilai ?

Beberapa hari yang lalu, di area Fisip Unsoed terlihat mahasiswa memakai ‘pita hijau’ di bahu kirinya. Tak Cuma satu.  Lumayan banyak. Aku pun heran. Kenapa teman-teman mahasiswa yang ku kenal pada pakai pita hijau?, pikirku dalam hati. “Akan ada acara apa di kampus?”, celetukku dalam diam. Namun tanda-tanda tanya itu sekejap lalu menghilang begitu saja dalam alam kesadaranku. Digantikan dengan ‘sesuatu’ yang musti terpikirkan dan menjadi prioritas hidupku. Kuliah..!!!

            Hari berlalu begitu cepat seakan dimensi ruang dan waktu mendesak perputaran jarum jam. Dan tentu tak terasa. Hingga beberapa waktu berlalu sejak hari penasaranku terhadap Gerli akhirnya terjawab. Di majalah dinding dekat toilet terpampang sebuah poster bertuliskan:

Gerakan Lingkungan Bersama atau GERLI

21-22 Oktober 2011

Notes: kertas ini di print dengan kertas bekas

Hubungi temanmu yang memakai pita hijau

            Saat membaca poster itu Aku pun tertarik untuk tahu lebih dalam. Kenapa Gerli ini bisa muncul? “Kok baru sekarang ya”,  hatiku bertanya.

            Seorang teman yang mengikuti gerakan ini atau bisa disebut sebagai valunter mengatakan kalau gerakan Gerli ini berawal dari mata kuliah gerakan sosial pada semester 7, diampuh oleh dosen sosiologi, Bu Rini namanya. Yang Aku takutkan Gerli atau gerakan lingkungan ini hanya sebatas kampanye. Hanya sekadar value oriented.  Setelah lulus, ditinggalkan. Hanya sebuah sloganitas yang tak berarti. Tanpa makna. Membuat gebrakan selanjutnya ditinggalkan oleh para volunternya. Tentu saja dengan alasan kesibukan kuliah masing-masing simpatisan individunya. Sudah mau lulus, banyak tugas, skripsi, dan banyak lagi alasannya. Hingga gerakan lingkungan ini tetap stagnan, dan mubazir. Tentu hal semacam itu tak pernah ada di pikiran para pelopor gerakan ini.

            Mudah-mudahan saja gerakan lingkungan ini menjadi sustain environmental movement. Berkelanjutan. Bukan hanya berdasarkan orientasi nilai (value oriented). ingin nilai A dalam satu mata kuliah. Tapi memang kesadaran dari mahasiswa sendirilah gerakan lingkungan ini lahir. Walaupun gerakan ini lahir dari keterpaksaan. Karena tuntutan tugas kuliah, misalnya. Semoga dari ketidaksengajaan dan keterpaksaan inilah kesadaran peduli lingkungan para agen perubahan ini bisa tumbuh pelan-pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s