Antara Ajakan dan Bahaya Vaksin/Imunisasi

Ulasan pustaka ini bersumber dari tulisan di website http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/ yang berjudul “Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya vaksin”. Dalam tulisan berikut ini akan dipaparkan ulang mengenai isi bacaan tersebut beserta komentar dan atau catatan kritis terhadapnya.

           

Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya Vaksin Bagi Kesehatan

            Penelitian mengenai vaksin modern atau yang biasa dikenal dengan imunisasi telah dilakukan oleh Flexner Brothers dan didanai oleh Rockefeller. Rockefeller sendiri merupakan salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia. Bahkan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional. Faktanya bahwa keluarga Rockefeller ini adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya. Melihat latar belakang tersebut jelas bahwa vaksin modern/imunisasi merupakan salah satu campur tangan (konspirasi) zionisme yang ingin memperbudak dan menguasai dunia dengan new world order mereka. Tentu saja hal tersebut sangat mengejutkan dunia kesehatan. Jangan-jangan vaksin sengaja didesain untuk membodohi kita semua, terutama negara-negara miskin, muslim dan negara dunia berkembang. Seperti Indonesia misalnya.

Menurut para imuwan, vaksinasi/imunisasi itu berbahaya. Dalam tulisan di website http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/  dikutipkan pendapat para ilmuwan tentang vaksin.

 

“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”

( Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika)

 

“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”

(Dr. Richard Moskowitz, Harvard University)

 

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”

(Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris)

 

“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”.

(dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional)

 

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”

(Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962)

 

“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.”

(Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional)

 

“Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”

( Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika)

 

“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.”

(Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”)

 

 

Bahkan diJerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.

Rahasia dibalik vaksin dan imunisasi telah menjadi tanda tanya besar bagi negara-negara maju. Dan sekarang sudah terjawab, bahwa vaksin itu berbahaya bagi kesehatan. Vaksin Diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang) dan hal tersebut merupakan sebuah proyek besar bangsa zionis untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut. Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tau bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA[1] sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut. Apabila DNA orang yang tidak kita tau asal- usul dan wataknya tercampur dengan bayi yang masih suci maka yang terjadi tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut. Bisa dibayangkan bila sang inang vaksin tersebut dipilih dari orang-orang yang terbuang, kriminal, pembunuh, pemerkosa, peminum alkohol, dan sebagainya. Dari banyak sumber diketahui bahwa penelitian tentang virus dilakukan kepada para narapidana untuk menghemat biaya penelitian, atau mungkin hal itu disengaja oleh pihak-pihak yang terkait. Pasalnya Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri, formaldehyde, dan aluminium, yang dapat membawa efek jangka panjang seperti keterbelakangan mental, autisme, hiperaktif. alzheimer, kemandulan, dll. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak autis meningkat dari antara 200 – 500 % di setiap negara bagian di Amerika.

 

Babi dalam vaksin

            Penggunaan asam amino binatang babi dalam vaksin bukanlah sesuatu yang baru. Kaum muslim maupun yahudi telah mengharamkan babi sejak dulu. Seperti yang tercermin dalam Al-Quran  surat Al maidah (5)  ayat 3 yang berbunyi: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,…. Bahkan dalam Perjanjian Lama (Taurat) juga disebutkan : “Jangan makan babi. Binatang itu haram karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tidak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.”

 

Imamat 11 : 7-8

 

Dalam kedua kitab tersebut menyebutkan babi itu haram. Tentu kenapa tuhan mengharamkan babi pasti ada alasan-alasan yang jelas. Dari berbagai sumber menyatakan bahwa babi itu haram alasan terpentingnya karena DNA babi mirip dengan DNA manusia. Perbedaannya hanya 3 %.  Aplikasi teknologi transgenetika membuat organ penyusun tubuh babi akan semakin mirip dengan manusia. Itulah mengapa babi diharamkan. Jika kita memakan daging babi berarti sama saja makan daging manusia. Atau dengan pekataan lain kanibal, makan daging sesama manusia. Selain itu ada hal-hal lain yang menyebabkan diharamkannya babi yaitu, banyaknya penyakit dalam tubuh babi, tubuh babi dapat mengubah virus jinak menjadi ganas, dan sifat babi yang buruk dapat menurun kepada manusia yang memakannya.

Babi dalam vaksin jelas juga termasuk haram. Vaksin meningitis misalnya. Vaksin ini biasanya diberikan pada jamaah haji Indonesia sebelum mereka pergi haji ke tanah mekkah. Padahal menurut Islam babi itu haram tetapi kenapa saat jamaah haji Indonesia mau beribadah menghadap Allah malah disuntikan unsur babi ke dalam tubuhnya. Padahal semua vaksin itu berbahaya dan tidak ada yang aman, apalagi vaksin dari unsur babi. Selain bahaya juga diharamkan babi  bagi  muslim.

 

 

Bencana akibat vaksin yang tidak pernah dipublikasikan

 

            Beberapa kasus dan bukti bahwa vaksin memiliki efek-efek negatif yang membahayakan kesehatan adalah sebagai berikut.

  1. Di Amerika pada tahun 1991 – 1994 sebanyak 38.787 masalah kesehatan dilaporkan kepada Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA. Dari jumlah ini 45% terjadi pada hari vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan 93% dalam waktu 2 mgg setelah vaksinasi. Kematian biasanya terjadi di kalangan anak anak usia 1-3 bulan.
  2. Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal.
  3. Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus.
  4. Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin.
  5. Tahun 1989-1991 vaksin campak ”high titre” buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb diuji coba pada 1500 anak-anak miskin keturunan orang hitam dan latin, di kota Los Angeles, Meksiko, Haiti dan Afrika. Vaksin tersebut sangat direkomendasikan oleh WHO. Program dihentikan setelah di dapati banyak anak-anak meninggal dunia dalam jumlah yang besar.
  6. Vaksin campak menyebabkan penindasan terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai 3 tahun. Akibatnya anak-anak yang diberi vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan meninggal dunia dalam jumlah besar dari penyakit-penyakit lainnya WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasar di tahun 1992.
  7. Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar.
  8. Desember 2002, Menteri Kesehatan Amerika, Tommy G. Thompson menyatakan, tidak merencanakan memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga merekomendasikan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak meminta pelaksaanaan vaksin itu. Sejak vaksinasi massal diterapkan pada jutaan bayi, banyak dilaporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan lain mulai mengisi halaman-halaman jurnal kesehatan.
  9. Kenyataannya vaksin untuk janin telah digunakan untuk memasukan encephalomyelitis, dengan indikasi terjadi pembengkakan otak dan pendarahan di dalam. Bart Classen, seorang dokter dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahwa tingkat penyakit diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru, setelah vaksin hepatitis B diberikan secara massal di kalangan anak-anak. Melaporkan bahwa, vaksin meningococcal merupakan ”Bom waktu bagi kesehatan penerima vaksin.”
  10. Anak-anak di Amerika Serikat mendapatkan vaksin yang berpotensi membahayakan dan dapat menyebabkan kerusakan permanen. Berbagai macam imunisasi misalnya, Vaksin-vaksin seperti Hepatitis B, DPT, Polio, MMR, Varicela (Cacar air) terbukti telah banyak memakan korban anak-anak Amerika sendiri, mereka menderita kelainan syaraf, anak-anak cacat, diabetes, autis, autoimun dan lain-lain.
  11. Vaksin cacar dipercayai bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat terhadap cacar. Pada saat vaksin ini diluncurkan, sebenarnya kasus cacar sudah sedang menurun. Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.
  12. Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang yang menolak bisa diperkarakan secara hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867. Dalam 4 tahun, 97.5& masyarakat usia 2 sampai 50 tahun telah divaksinasi. Setahun kemudian Inggris merasakan epidemik cacar terburuknya dalam sejarah dengan 44.840 kematian. Antara 1871 – 1880 kasus cacar naik dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang. Vaksin cacar tidak berhasil.

Kasus-kasus yang membuktikan bahwa vaksin itu membawa bencana tidak pernah dipublikasikan dan bahkan disembunyikan oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan. Hingga kini pengetahuan mengenai bahaya vaksin masih hanya diketahui oleh sekelumit orang. Namun mayoritas masyarakat di negara maju sudah tahu bahwa vaksin tidak baik dan cenderung malah memperlemah antibodi tubuh. Maka masyarakat di negara-negara tersebut menolak jika anak-anaknya di vaksin. Sekarang ini masyarakat miskin dan masyarakat negara dunia berkembang merpakan sasaran empuk pasar vaksin. Melalui kerjasama dengan pemerintahan negara tersebut maka vaksinasi menjadi program pemerintah. Masalahnya pemerintah juga belum tahu persis mengenai bahaya vaksin itu sendiri karena biasanya di negara miskin dan sedang berkembang kualitas SDM-nya terbatas sehingga belum mampu membuktikan bahwa vaksinasi merupakan konspirasi dan berbahaya bagi kesehatan.

 

Lalu bagaimana dengan vaksinasi di Indonesia?

Vaksinasi berkembang pesat di Indonesia yang notabene merupakan negara sedang berkembang dan berpenduduk mayoritas muslim. Bahkan pemerintah melalui Menteri Kesehatan,  dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH didampingi Gubernur Prov. DKI Jakarta, Fauzi Bowo, pada 18 Oktober 2011 mencanangkan program imunisasi/vaksinasi tambahan campak dan polio, di Jakarta. Pencanangan ini menandai dimulainya kampanye imunisasi tambahan campak dan polio, di 17 Provinsi di Indonesia.

Imunisasi di Indonesia dimulai pada tahun 1956 dan pada tahun 1990, kita telah mencapai  status Universal Child Immunization (UCI), yang merupakan suatu tahap  dimana cakupan imunisasi di suatu tingkat  administrasi telah mencapai  80% atau lebih. Sementara Indonesia bersama seluruh negara anggota WHO di Regional Asia Tenggara telah menyepakati  tahun 2012 sebagai Tahun Intensifikasi Imunisasi Rutin atau Intensification of Routine Immunization (IRI). Hal ini sejalan dengan Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional atau GAIN UCI yang bertujuan meningkatkan cakupan dan pemerataan pelayanan imunisasi sampai ke seluruh desa di Indonesia. Atau pencapaian imunisasi anak hingga 100%. Keseriusan pemerintah Indonesia dalam pencapaian target tersebut yaitu dengan turut terlibatnya Indonesia dalam sidang World Health Assembly (WHA) ke-64 pada tahun 2011 di Jenewa yang berhasil melahirkan sebuah kerangka Resolusi WHA 64.5 [2]mengenai persiapan menghadapi pandemi influenza: berbagi virus dan berbagi vaksin dengan manfat lainnya. Dengan keterlibatannya disini diharapkan Indonesia mendapatkan akses keterjangkauan vaksin.

Berdasarkan hal-hal yang telah disebutkan di atas menandakan bahwa negara Indonesia belum sadar bahwa vaksinasi itu berbahaya bagi kesehatan. Padahal sudah banyak di internet beredar berita mengenai bahaya vaksin. Terutama dari para ilmuwan di negara maju yang meneliti tentang vaksin. Bahkan pemerintah sendiri malah merencanakan pencapaian imunisasi  hingga 100% di 2014 nanti. Negara ini sepertinya telah dibutakan. Atau malah menutup mata terhadap isu vaksin demi tujuan bisnis kapitalis segelintir masyarakatnya sendiri yang menjadikan vaksin sebagai bisnis. Ataukah ada pihak luar yang memposisikan vaksin sebagai bisnis sekaligus penyerang yang menghancurkan perlahan-lahan masyarakat negara berkembang sendiri. Seperti diketahui bahwa akhir-akhir ini beberapa kasus  mencuat terkait efek vaksinasi. Diantaranya ada seorang bayi yang meninggal setelah diimunisasi. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang akhir-akhir ini muncul di media terkait isu bahaya imunisasi/vaksinasi.

 

Referensi

http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/, Diakses 3 November 2011.

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1696-menkes-canangkan-kampanye-imunisasi-tambahan-campak-dan-polio.html, Diakses 3 November 2011.

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1691-prorgam-imunisasi-berhasil-tekan-morbiditas-dan-mortalitas-tujuh-penyakit-di-indonesia.html, Diakses 3 November 2011.

 http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1619-upaya-kemkes-wujudkan-aksesibilitas-keterjangkauan-dan-akuntabilitas-imunisasi-di-indonesia.html, Diakses 3 November 2011.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/11/03/100818/Usai-Diimunisasi-Seorang-Bayi-Meninggal, Diakses 3 November 2011.

http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=576:ada-anggapan-imunisasi-haram&catid=81:berita-daerah&Itemid=75, Diakses 3 November 2011.

 http://onlineherba.blogspot.com/2010/07/bahaya-imunisasi.html, Diakses 3 November 2011.

http://saif1924.multiply.com/journal/item/10, Diakses 3 November 2011.

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en|id&rurl=translate.google.co.id&u=http://www.wariscrime.com/2009/08/31/news/historical-facts-about-the-dangers-of-vaccines/&usg=ALkJrhjEu26G2F_18K2m8WHa0dridDpmpQ, Diakses 3 November 2011.

 http://vactruth.com/2011/10/25/20-vaccination-trivia-facts/, Diakses 3 November 2011.

 http://vactruth.com/2011/10/18/vaccinat … ctiveness/, Diakses 3 November 2011.

http://vactruth.com/2011/10/16/medical- … n-the-usa/, Diakses 3 November 2011.

 http://vactruth.com/2011/10/17/no-scien … -no-proof/, Diakses 3 November 2011.

 

 

 

 

 

 

 


[1] DNA adalah berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya.

 

[2] Sidang ini dimaksudkan untuk melindungi hak seluruh negara berkembang dalam mendapatkan akses keterjangkauan  vaksin, antiviral, dan diagnostic kits pada saat pandemi influenza dan mendapatkan bantuan untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi vaksin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s